RSI hampir sama dengan stochastic yaitu menunjukan kondisi Overbought dan Oversold.Skala RSI adalah 0 – 100, dengan skala 80 sebagai batasan Overbought dan 20 sebagai batasan Oversold.
Cara membaca RSI sama dengan Stochastic.

Kelebihan RSI adalah dapat digunakan sebagai konfirmasi terhadap perubahan tren yang terjadi.Sehingga sering digunakan untuk menghindari signal palsu.
Bila garis RSI menembus level 50 maka trend benar-benar sudah terbentuk, perhatikan gambar di atas.
Nilai dari Rsi berada pada kisaran 0-100 (itulah sebabnya mengapa digolongkan sebaga indikator oscillator. Oscillate = berkisar).
RSI sendiri merupakan indikator yang membandingkan momentum harga yakni antara nilai pada saat ini terhadap daya tarik losses yang terjadi.
Secara matematis RSI dituliskan sebagai berikut: ![]()
dengan RS adalah :
RS = Relative Strength, merupakan ratio antara dua buah XMA yang dihaluskan.
AG = Average price gain pada periode yang ditentukan. Diperoleh dari total gain dibagi periode yang dipakai. ![]()
AL = Average price loss pada periode yang ditentukan. Diperoleh dari total loss dibagi periode yang dipakai.

Divergence Positif / Negatif menurut RSI
Jika indikator RSI bergerak naik sementara harga sedang menurun, hampir dapat dipastikan bahwa harga akan bergerak mengikuti pergerakan indikator RSI yaitu kembali naik.
Demikian juga sebaliknya bila RSI sedang menurun dan harga sedang naik, maka beberapa saat kemudian harga akan bergerak turun mengikuti arah pergerakan RSI.
Perhatikan gambar dibawah ini :

Seperti MACD , RSI juga dapat digunakan mengukur kekuatan momentum kenaikan/penurunan harga.Bedanya jika pada MACD crossover terjadi pada garis nol maka pada RSI pada garis 50.
The Centerline Crossover (Momentum)
Cara membaca kekuatan momentum suatu harga sama seperti pada MACD yakni bila garis RSI menembus centerline (garis 50) dari bawah maka sedang terjadi trend kenaikan.
Besarnya momentum sebanding dengan besar nilai RSI yang terjadi. Demikian juga berlaku sebaliknya.
False Signal pada RSI
Jika kita telusuri dari rumus RSI mula-mula dapat kita ketahui bahwa pada dasarnya RSI bergerak dengan sangat sensitif.
Sebuah indikator yang sensitif memungkinkan kita memiliki banyak “anjuran” untuk Buy/Sell menurut indikator yang bersangkutan.
Itu keuntungannya,namun itu pun menjadi sekaligus bumerang bagi kita karena dengan semakin banyaknya anjuran yang ada maka akan semakin banyak kesempatan untuk terjadi anjuran yang menyesatkan yang membawa kerugian besar.
Oleh banyak chartist, RSI tidak digunakan sendirian sebagai indikator utama karena sifat sensitifnya itu.
RSI lebih sering dipakai sebagai penguat anjuran oleh indikator lain.
Cara menghilangkan false signal pada RSI adalah mencari periode yang terbaik pada RSI yang hendak kita gunakan.
Periode mana yang cocok, pada gambar diatas? silakan Anda yang tentukan sesuai selera masing-masing.Cara lainnya lagi adalah mengurangi sifat sensitifitas RSI dengan memangkas bagian-bagian RSI yang terlalu keriting.
Caranya dengan memberikan penghalus pada RSI menggunakan SMA.

Pada gambar diatas SMA 5 periode untuk menghaluskan RSI yang terlalu keriting.
Perhatikan pada area lingkaran hijau.
Terlihat bahwa nampaknya seolah-olah RSI akan menembus centerline yang artinya akan terjadi penguatan harga dalam tempo lumayan panjang.
Tetapi ternyata itu hanyalah false signal, terbukti harga bergerak turun dan tidak terjadi kenaikan sama sekali.
False signal ini dapat diketahui lebih dini ketika memberikan SMA pada RSI.
SMA menunjukkan tidak menembus centerline yang artinya tidak akan terjadi penguatan harga sama sekali.
Demikian caranya.
Perlu diketahui, kondisi overbought/ oversold pada area 20-80 pun seringkali memberikan false signal dan dapat kita atasi dengan cara yang sama seperti cara diatas.